Netizen Jahat Pencuri Oksigen

GONJANG-ganjing klub kecintaan sepakbola Wong Kito Sriwijaya FC dimulai dari media sosial. Bukan dari media mainstream koran cetak seperti kami.
Unggahan komentar pemain-pemain "oncak" seperti kapten tim Hamka Hamzah, Adam Alis dan lain-lain segera mendapat komentar dari pecinta klub ini.
Media sosial kami yang berbasis pada berita tentu harus menempuh jalur konfirmasi kepada manajemen. 
Kalah cepat pasti. Namun verifikasi terakhir sebuah informasi tetap ada pada berita yang terbit di koran cetak.
Yang menarik, komentar netizen pada postingan tentang Sriwijaya FC melalui akun instagram @tribunsumsel. Isinya 90 persen membuat saya 
terhenyak bukan kepalang.
Sumpah serapah, kata-kata penyebutan alat kelamin (dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris), tudingan sepihak pada manajemen, penyebutan suku 
tertentu dan hal-hal ketidakpantasan memenuhi dinding komentar akun @tribunsumsel.
Dengan tegas kami pun membuang komen-komen tersebut. Atas pertimbangan UU ITE kami memilih untuk menonaktifkan semua komentar.
Pada tahun-tahun pertama adanya internet, hanya sebagian kecil dari populasi warga Amerika Serikat yang bisa online. 
Pada saat itu, "netizen" identik dengan sekumpulan orang aneh dengan kebiasaan yang tak biasa, yaitu menghabiskan waktu berjam-jam untuk online.
Netizen adalah portamteau, menggabungkan kata "net" dan "citizen", yang membawa kita kembali ke tahun 1984, awal dari keberadaan internet. 
Citizenship dalam konteks digital tentunya memberikan hak istimewa dan peluang baru bagi netizen. 
Pengguna internet saat ini kebanyakan adalah kaum urban yang berpendidikan, tapi tidak semuanya punya privilege untuk dikenal publik secara offline. 
Dengan adanya internet, mereka bisa menyampaikan pendapat tentang sebuah isu melalui forum, dan media sosial.
Internet sebagai wadah untuk interaksi demokrasi memang nilainya sangat luar biasa. Karena itu harus selalu dipupuk dan dikembangkan dalam program edukasi masyarakat. Internet perlu demi terciptanya jaringan informasi yang cepat. 
Internet juga memiliki kapasitas untuk mendobrak penghalang kelas-kelas sosial dan menyetarakan interaksi. 
Perhatikan saja, Presiden Jokowi bisa berinteraksi langsung dengan netizen. Selebiti dan penggemarnya juga bisa berinteraksi dengan bebas.
Bahkan karya-karya anak muda direspon langsung oleh tokoh-tokoh atau key opinion leader (KOL).
Berarti internet bukan sebuah masalah. Tetapi etika menggunakan internet yang harus dipikirkan. 
Hal paling mudah dan efektif untuk merespon haters adalah memblokir mereka di media sosial. Mereka adalah pencuri oksigen (oxygen thieves).
Sungguh percuma menghabiskan 5 - 10 menit dan  menahan napas karena kesal membaca komentar tidak pantas dari haters. 
Menurut pandangan Iwan Piliang seorang wartawan, penggiat laporan warga dan juga aktivis, dunia medsos bukanlah dunia bebas nilai.
"Ada batasan keinsanan nilai dalam memuat konten,"kata Iwan kepada Tribun Sumsel, melalui chat whatsapps, Sabtu (14/7).
Media sosial adalah wadah untuk engagement. Karenanya perkembangannya menagumkan.  Kecepatannya luar biasa.
Bila telepon perlu waktu 75 tahun untuk dikenal dan digunakan secara masif di dunia maka internet hanya perlu 4 tahun.
Menurut survei yang diadakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet pada Oktober 2016, pengguna medsos tertinggi dipegang oleh tiga diva.
Facebook (71,6 juta), Instagram (19,9 juta) dan YouTube (45 juta). Pengguna Instagram melonjak menjadi 45 juta pada Juli 2017. Ini angka tertinggi 
di Asia Pasifik. 
Mengapa angka pengguna medsos di Indonesia sedemikian tinggi dan pesat? Menurut Edwin, konsultan digital dan pemilik Bangwin Consulting, 
penyebabnya adalah karena jiwa guyub rakyat Indonesia yang sangat tinggi.
Memiliki followers tinggi dipandang sebagaipencapaian. Sampai ada bisnis jual followers. Yang sifatnya tentu saja palsu. Ada-ada saja.
Akun-akun palsu dan haters saat ini jadi bagian netizen kita. Rugi meladeni si pencuri oksigen ini. 
Jangan sampai stres oleh komentar "basing" (sembarangan). Apalagi sampai terpilir untuk bunuh diri. Amit-amit !
Kalau kita tahu lebih baik maka kita akan melakukan lebih baik. Kalau kita tahu aturan main maka kita pun akan mengikuti pola main itu.
Mari berempati sebelum kita mengunggah komentar, gambar, foto. Apakah postingan yang saya share layak diterima oleh yang menerima. Atau untuk 
khalayak?
Apakah saya mengomentari sesuatu hanya karena reaksi emosional belaka? Itu di antaranya pertanyaan-pertanyaan menggugat sebelum dilempar ke 
publik.
Sudah saatnya pendidikan kita di sekolah berperan. Guru-guru agama, guru-guru bimbingan konseling(BK), komunitas-komunitas bisa berperan aktif menyuarakan 
hal ini.
Jangan oksigen yang sudah terbatas ini dikurangi pula oleh komentar-komentar netizen tidak bertanggung jawab.

Komentar